ShoutMix chat widget

INFO PENERIMAAN MAHASISWA BARU 2010/2011

@ AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA (01 Februari s.d 23 Agustus 2010)
@ INSTITUT SAINS TERAPAN DAN TEKNOLOGI SURABAYA (online)
@ INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA
> Gelombang I (Mei s.d Juni 2010)
> Gelombang II (Juli 2010)
@ INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (online)
@ INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER (04 Januari s.d 02 April 2010)
@ SEKOLAH TNGGI INFORMATIKA & KOMPUTER INDONESIA
@ SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR TRISAKTI (online)
@ STIKES SANTO BORROMEUS
> Gelombang Ia (02 November 2009 s.d 12 Maret 2010)
> Gelombang Ib (13 Maret s.d 27 Mei 2010)
> Gelombang II (31 Mei s.d 16 Juli 2010)
> Gelombang III (19 Juli s.d 12 Agustus 2010)
@ STIKS TARAKANITA (01 September 2009 s.d 31 Juli 2010)
@ UNIVERSITAS AIRLANGGA (sudah dibuka 0_0)
@ UNIVERSITAS ATMAJAYA YOGYAKARTA
> Jalur Ranking (01 September 2009 s.d 30 April 2010)
> Jalur Rapor (01 September 2009 s.d 30 April 2010)
> Jalur NEM (01 Juni 2010 s.d 31 Juli 2010)
> Jalur Non Akademik (01 September 2009 s.d 29 Januari 2010)
> Jalur Antara (01 September 2009 s.d 29 Januari 2010)
> Jalur Kerja Sama (01 September 2009 s.d 29 Januari 2010)
> Jalur Reguler Periode I (03 Mei s.d 11 Juni 2010), Periode II (14 Juni s.d 09 Juli 2010), Periode III (12 Juli s.d 06 Agustus 2010)
> Jalur PSSB (02 Nopember 2009 s.d 29 Januari 2010)
> Jalur Beasiswa (akan diinformasikan)
@ UNIVERSITAS GUNADARMA (daftar online)
@ UNIVERSITAS INDONESIA (donwload info rev 1.1)
> PPKB (November 2009), SIMAK (11 April 2010), KSDI (15 Mei 2010), Prestasi (15 Mei 2010)
@ UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA (01 Desember 2009 s.d 04 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
> Penelusuran Bibit Unggul Daerah (01 Februari s.d 30 April 2010)
> Ujian Masuk Jalur Mandiri (19 Juli s.d 30 Juli 2010)
@ UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG (on site)
@ UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
> USM I (17 Desember 2009 s.d 26 Januari 2010)
> USM II (07 Februari s.d 04 Mei 2010)
> USM III (17 Mei s.d 20 Juli 2010)
@ UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
> Jalur Prestasi Tahap I (01 September s.d 30 Oktober 2009), Tahap II (02 Nopember 2009 s.d 04 Januari 2010), Tahap III (18 Januari s.d 26 Februari 2010), Tahap IV (01 Maret s.d 16 April 2010)
> Jalur Kerja Sama (15 Februari s.d 05 Maret 2010)
> Jalur Reguler Gelombang I (03 Mei s.d 18 Juni 2010), Gelombang II (21 Juni s.d 16 Juli 2010), Gelombang III (19 Juli s.d 03 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA (September 2009 s.d April 2010)
> Jalur Penelusuran Prestasi Siswa
> Jalur Penulusuran Potensi Akademik Siswa
@ UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
> Jalur Tanpa Tes (14 September 2009 s.d 30 Juni 2010)
> Jalur Tes Gelombang I (29 Mei 2010), Gelombang II (10 Juli 2010)
> Jalur Tes Harian (01 April s.d 13 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS MEDAN AREA (mulai Juni 2010)
@ UNIVERSITAS PAKUAN
> Gelombang I (05 Januari s.d 20 Mei 2010)
> Gelombang II (24 Mei s.d 03 Juli 2010)
> Gelombang III (05 Juli s.d 07 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS PANCASILA
> Gelombang I (09 November 2009 s.d 27 Maret 2010)
> Gelombang II (28 Maret s.d 25 Juni 2010)
> Gelombang III (26 Juni s.d 20 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
> Jalur Prestasi Periode V (04 s.d 30 Januari 2010), Periode VI (01 Februari s.d 27 Februari 2010), Periode VII (01 Maret s.d 20 Maret 2010), Periode VIII (22 Maret s.d 22 April 2010)
> Jalur Tes (01 September 2009 s.d 23 April 2010)
> Jalur Reguler Gelombang I (03 Mei s.d 04 Juni 2010), Gelombang II (07 Juni s.d 01 Juli 2010), Gelombang III (05 s.d 29 Juli 2010)
@ UNIVERSITAS SURABAYA (30 November 2009 s.d 19 Januari 2010)
@ UNIVERSITAS TARUMANEGARA (s.d Agustus 2010) DOWNLOAD
@ UNIVERSITAS TRISAKTI (online)

Rabu, 07 Juli 2010

HEALTH BELIEF MODEL SEBAGAI ALAT MELAKUKAN PERUBAHAN PERILAKU PADA LEVEL INDIVIDU

          Teori Health Belief Model didasarkan pada pemahaman bahwa seseorang akan mengambil tindakan yang akan berhubungan dengan kesehatan. Teori ini dituangkan dalam lima segi pemikiran dalam diri individu,yang mempengaruhi upaya yang ada dalam diri individu untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya, yaitu perceived susceptibility (kerentanan yang dirasakan/ diketahui), perceived severity (bahaya/ kesakitan yang dirasakan), perceived benefit of action (manfaat yang dirasakan dari tindakan yang diambil), perceived barrier to action (hambatan yang dirasakan akan tindakan yang diambil), cues to action (isyarat untuk melakukan tindakan). Hal tersebut dilakukan dengan tujuan self efficacy atau upaya diri sendiri untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya.

          Tiga faktor penting dalam Health Belief Model, yaitu :

1. Kesiapan individu untuk merubah perilaku dalam rangka menghindari suatu penyakit atau memperkecil risiko kesehatan.

2. Adanya dorongan dalam lingkungan individu yang membuatnya merubah perilaku.

3. Perilaku itu sendiri.

          Ketiga faktor di atas dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti persepsi tentang kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk memperkecil kerentanan terhadap penyakit, adanya kepercayaan bahwa perubahan perilaku dapat memberikan keuntungan, penilaian individu terhadap perubahan yang ditawarkan, interaksi dengan petugas kesehatan yang merekomendasikan perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba perilaku yang serupa.

          Dalam kasus yang terjadi di Jawa Tengah sesuai penelitian yang dilakukan dari bulan Agustus 1989 sampai Oktober 1990 di Salam Kabupaten Magelang. Permasalahan terjadi antara pasien dan tenaga kesehatan di PUSKESMAS. Adanya hambatan dalam komunikasi, mitos yang berkembang di masyarakat, dan masalah financial.

Sesuai dengan teori health belief model

1. Perceived susceptibility:

masyarakat beranggapan jika mereka tidak disuntik mudah tertular penyakit. Selain itu mereka juga mengetahui efek samping dari suntik yaitu demam (biasanya pada anak-anak)

2. Perceived severity:

mereka tidak suntik maka mereka tidak akan sembuh

3. Perceived benefit of action :

masyarakat paham bahwa jika mereka disuntik maka akan sembuh

4. Perceived barrier to action :

Masyarakat percaya bahwa seseorang harus menderita terlebih dahulu untuk sembuh

5. Cues to action :

Pasien sudah mengerti kebiasaan seperti apa yang harus mereka lakukan saat berobat ke puskesmas, yaitu setelah memberikan keluhan yang dirasakan saat itu, dokter memberikan pertanyan sugestif “suntik, ya?”, dengan spontan pasien akan berbaring dan membuka celananya siap untuk disuntik.

more (……) <DOWNLOAD> selengkapnya

Minggu, 20 Juni 2010

KUNJUNGAN LAPANGAN IKM B 2008 ke BENOWO

 imageDewasa ini seiring dengan perkembangan jaman, pertumbuhan sektor industri turut mengiringi upaya pembangunan nasional bangsa. Bukan hanya pembangunan yang bersifat materiil saja yang patut diperhatikan melainkan dampak dari proses pembangunan tersebut juga memerlukan perhatian khusus. Hal ini terutama terkait dengan limbah domestik maupun hasil industri yang berpotensi mempengaruhi kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitarnya. Optimalisasi proses penanggulangan yang disertai dengan upaya pencegahan mulai digalakkan dan dilindungi oleh peraturan pemerintah, salah satunya melalui pendidikan yang memfokuskan perhatiannya pada pengaruh faktor lingkungan terhadap kesehatan prevetif, promotif, dan protektif.

          Salah satu profesi yang bertanggung jawab untuk poaktif memberikan solusi terhadap permasalahan yang timbul sebagai dampak limbah terhadap kesehatan lingkungan adalah tenaga ahli kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, proses pembelajaran memerlukan suatu kunjungan lapangan yang dapat membantu mahasiswa lebih kenal dan paham terhadap kondisi sebenarnya di lapangan sehingga teori lebih dapat teraplikasikan dengan baik. Mata kuliah Pengolahan Limbah merupakan salah satu mata kuliah yang diajarkan oleh Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UNAIR yang peduli dan concern dengan kesehatan lingkungan termasuk dampak limbah bagi lingkungan. Hal inilah yang sangat membantu mahasiswa dalam mengoptimalkan proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dengan pengadaan kunjungan lapangan yang menyertainya

          Kegiatan ini bertujuan memfasilitasi mahasiswa dalam mengenal medan/ lapangan sesungguhnya sehingga dapat menjadi kesempatan setiap individu untuk mengimplementasikan teori yang sudah dipelajari perkuliahan. Kegiatan diarahkan pada pengamatan pengolahan limbah dan memicu semua mahasiswa untuk peka dan proaktif dalam memberikan solusi atas masalah yang ditimbulkan sebagai dampak limbah domestik maupun industri terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan di sekitarnya. Kunjungan lapangan ini diharapkan dapat mendukung pemahaman mahasiswa khususnya mengenai pengolahan limbah sekaligus belajar mengoptimalkan upaya pemberdayaan masyarakat sebagai faktor utama solusi atas permasalahan lingkungan yang terjadi di sekitarnya

clip_image002

        Diperkiraan produksi sampah dari masyarakat seluruh Surabaya mencapai 8.700 meter kubik per hari. Dan luas lahan di TPA Benowo 7,3 hektar. TPA Benowo selain menampung sampah dari Surabaya juga menampung sampah yang berasal dari kota terdekat seperti Sidoarjo dan Gresik. TPA Benowo menampung sampah sebanyak 1300 ton per hari. Ada proses pemisahan terlebih dahulu oleh para pemulung. Jam kerja TPA Benowo 07.00 – 15.00.

          Pada umumnya penanganan sampah yang baik diterapkan pada sebuah tempat pembuangan akhir yaitu dengan sistem sanitary landfill yakni sampah yang telah masuk di TPA kemudian ditutupi tanah lempung agar tidak menimbulkan bau yang menyengat dan dilakukan setiap hari, namun pada tempat pembuangan akhir Benowo tidak menggunakan sistem tersebut melainkan sistem yang dipakai yaitu System Open Dumping atau boleh dikatakan Semi Sanitary Landfill pada TPA tersebut setiap 3 sampai 4 minggu bahkan terkadang satu tahun sekali dilakukan penimbunan tanah  lempung dengan tebal 40 cm terhadap sampah yang telah dipadatkan atau ketika sampah telah menumpuk hingga setinggi 3,75 meter

<DOWNLOAD LAPORAN> selengkapnya

Senin, 07 Juni 2010

GROUP DYNAMICS for HEALTH PROVIDER (Peran Dinamika Kelompok untuk SKM)

          Pembangunan kesehatan ditujukan pada terwujudnya derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan secara optimal. Derajat kesehatan masyarakat yang dimaksud menurut HI. Blum dipengaruhi oleh 4 faktor diantaranya lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan herediter atau genetiknya. Dari keempat faktor tersebut, salah satunya adalah faktor perilaku (behaviour) yang merupakan faktor yang dapat diintervensi dengan kompetensi-kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dapat beraktualisasi dalam upaya - upaya kesehatan seperti upaya promotif dan preventif karena upaya kuratif dan rehabilitatif merupakan wilayah klinik yang bukan ranah kompetensi dari SKM.

          Dalam melakukan intervensi faktor perilaku, tentu saja harus memperhatikan dan mengenali masyarakat terlebih dahulu. Sasaran dari intervensi perilaku tersebut tidak hanya difokuskan pada individu semata, tetapi juga kelompok-kelompok dalam suatu masyarakat karena pada masyarakat, jalinan hubungan dan saling ketergantungan individu terhadap anggota-anggota lainnya sangat jelas dan hal ini akan mempengaruhi individu di dalam kelompok-kelompok tersebut. Kehidupan kelompok lebih merupakan cerminan dari gaya hidup masyarakat yang berorientasi ke dalam dan terjadi interaksi di antara individu yang didasarkan atas ikatan perasaan, baik perasaan dalam hal saling mengisi dalam setiap peristiwa sosial, maupun perasaan untuk saling melindungi antar sesama anggota kelompok. Keadaan ini akan terjadi selama semangat kelompok (Group spirit) terus menerus berada dalam kelompok tersebut dan kelompok ini selalu bersifat dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan tuntutan jaman.

          Ketika melakukan intervensi faktor perilaku terhadap masyarakat, maka akan dapat diterapkan adanya suatu dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan suatu metode dan proses yang bertujuan meningkatkan nilai kerjasama kelompok. Artinya metode dan proses dinamika kelompok ini berusaha menumbuhkan dan membangun kelompok yang semula terdiri dari kumpulan individu yang belum saling mengenal satu sama lain menjadi satu kesatuan kelompok dengan satu tujuan, satu norma dan satu cara pencapaiannya yang disepakati bersama. Dinamika kelompok ini dapat diterapkan terhadap masyarakat ataupun di dalam lingkup Kesehatan Masyarakat itu sendiri sehingga akan mendapatkan hasil yang optimal dalam upaya pencapaian derajat kesehatan masyarakat.

          Dalam upaya mencapai kesehatan yang optimal tersebut, tentunya ada indikator-indikator tentang kesehatan masyarakat yang harus dipenuhi. Indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan- perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Suatu indikator tidak selalu menjelaskan keadaan secara keseluruhan, tetapi pada umumnya hanya petunjuk (indikasi) tentang keadaan keseluruhan tersebut sebagai suatu pendugaan. Indikator kesehatan merupakan ukuran yang menggambarkan atau menunjukkan status kesehatan sekelompok orang dalam populasi tertentu, misalnya angka kematian kasar. Penetapan indikator kesehatan ini tidak selalu mutlak seragam diterapkan di seluruh daerah atau wilayah negara. Penetapan indikator kesehatan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh daerah atau wilayah negara itu sendiri. Salah satu contoh indikator kesehatan adalah indikator “Indonesia Sehat 2010”  yang digunakan untuk  meningkatkan status kesehatan masyarakat Indonesia. Indikator ini dibagi ke dalam beberapa kelompok, antara lain :

a.  Indikator Derajat Kesehatan yang merupakan hasil akhir, yang terdiri atas indikator-indikator mortalitas, indikator-indikator morbiditas, dan indikator-indikator status gizi.

b.  Indikator Hasil Antara, yang terdiri atas indikator-indikator keadaan lingkungan, indikator-indikator perilaku hidup masyarakat, serta indikator-indikator perilaku hidup masyarakat, serta indikator-indikator akses dan mutu pelayanan kesehatan.

c.  Indikator Proses dan Masukan, yang terdiri atas indikator-indikator pelayanan kesehatan, indikator-indikator sumber daya kesehatan, indikator-indikator manajemen kesehatan,  dan indikator kontribusi sektor-sektor terkait.

          Akan tetapi, hingga memasuki tahun 2010 pun upaya-upaya peningkatan kesehatan juga belum berjalan optimal walaupun telah ditetapkan berbagai program kesehatan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah faktor tenaga kesehatan, khususnya lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Oleh karena itu, dalam mencapai indikator-indikator kesehatan untuk upaya peningkatan kesehatan secara keseluruhan ini, SKM dapat menerapkan berbagai cara efektif sehingga mampu mencapai peningkatan kesehatan masyarakat yang optimal dengan melakukan intervensi perilaku menggunakan berbagai permainan dalam dinamika kelompok untuk mengintervensi pola perilaku dari masyarakat ataupun juga untuk membangun tim dalam mengintervensi masyarakat.

          Berbagai macam permainan telah dirancang dalam dinamika kelompok dan hal tersebut memberikan manfaat yang sangat banyak, antara lain dapat membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup, memudahkan segala pekerjaan, mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat dengan efektif dan efisien. Beberapa contoh permainan dalam dinamika kelompok antara lain Leadership-games, Psycho-drama, Role-playing games, Trust-building games, Group problem solving activities, management conflict dan Communication games.

          Salah satu contoh permainan yang dapat diaplikasikan dan juga dibutuhkan sebagai pembekalan SKM disini adalah Communication Games. Communication Games merupakan bentuk permainan …..(more)

by : Budi Eko Siswoyo, dkk

selengkapnya <DOWNLOAD>

Minggu, 02 Mei 2010

LIFE TABLE ANALYSIS (Analisis Data Senegal ‘95-'99)

LIFE TABLE FOR THE BANDASSI DSS SITE, SENEGAL, 1995-1999

image

Keterangan :

x (age), M (mortality rate), q (probability of death/ death rate), l (survivor), L (years lived between ages x, x+n), T (years lived, starting at age x), e (life expectancy), d (number of deaths)

Analisis

          Tabel di atas merupakan Life Table for The Bandassi dss site, Senegal tahun 1995-1999. Dalam tabel tersebut menyajikan perbedaan jenis kelamin, sehingga data yang tertera terdiri atas laki-laki dan perempuan. Jumlah tahun yang berjalan setelah kelahiran dibuat dalam bentuk interval dengan 19 kelas di dalamnya, dimulai kurang dari satu tahun sampai lebih dari delapan puluh lima tahun. Seiring dengan umur yang semakin tua, bilangan yang menunjukkan jumlah anggota kohort yang masih hidup pada umur tertentu semakin menurun. Jumlah kematian pada setiap umur dalam interval waktu dikatakan tidak merata. Adapun 5 interval kelas yang menunjukkan jumlah kematian terbanyak, di pria yaitu pada umur kurang dari 1 tahun, kelas antara 1-4 tahun, 60-64 tahun, 65-69 tahun, dan 80-84 tahun, sedangkan dalam anggota perempuan pada umur kurang dari 1 tahun, kelas antara 1-4 tahun, 65-69 tahun, 75-79 tahun, dan 80-84 tahun. Hal ini merupakan salah satu sebab rendahnya jumlah pria menjelang umur 80-84 tahun. Probabilitas kematian pada beberapa umur di atas tidak menentu, terkadang mengalami kenaikan tetapi pada interval umur tertentu mengalami penurunan, begitu seterusnya. Akan tetapi, yang juga dapat terlihat bahwa probability of death rate dari pria lebih terlihat signifikan bukan hanya selisih perubahan tetapi juga nilainya daripada pada perempuan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pada setiap interval umur, jumlah pria selalu lebih kecil daripada perempuan. Probabilitas kematian sebanding dengan jumlah tahun kehidupan kohort life table dalam setiap interval umur, dan juga dengan jumlah tahun kehidupan dari kohort umur x hingga semua individu dalam kohort tersebut meninggal, sehingga perempuan memiliki jumlah tahun kehidupan lebih banyak daripada pria. Hal ini sudah mulai terlihat dari tingginya angka mortalitas bayi/ anak pada awal periode (di bawah umur 5 tahun) yang ditunjukkan dengan nilai Lx makin mendekat lx+1. Oleh karena itu, rata-rata harapan hidup penduduk berjenis kelamin pria lebih rendah daripada perempuan pada setiap interval umur. Hal ini dipertegas kembali dengan keberadaan nilai Mx yang mencerminkan jumlah kematian per kelompok interval umur per 1000 penduduk. Seperti biasa, nilai Mx yang dimiliki oleh pria lebih tinggi daripada perempuan dan ini berarti jumlah kematian pria lebih tinggi daripada perempuan. Keadaan seperti ini bisa jadi akan menimbulkan kesenjangan dari suatu keluarga mengingat harapan hidup pria selaku kepala keluarga lebih rendah daripada perempuan dan menuntut perempuan untuk lebih mandiri dan siap menopang perekonomian jika sewaktu-waktu ditinggal meninggal oleh sang suami atau tulang punggung keluarganya. Perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai penyebab rendahnya harapan hidup pria daripada perempuan pada setiap interval umur dengan beberapa variabel yang dipertimbangkan termasuk terhadap lebih tingginya Mx pada perempuan di atas umur 85 tahun.

Jumat, 16 April 2010

SEMINAR & PELATIHAN NASIONAL HACCP 2010 “Optimizing Application of HACCP to Reduce Food Adulteration”

          Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR) serasa tidak pernah absen baik dalam mengadakan kegiatan maupun mengikuti kegiatan oleh dan untuk mahasiswa. Kali ini, mahasiswa fakultas yang telah terakreditasi A ini mengirimkan 28 mahasiswa delegasinya secara voluenter untuk mengikuti Seminar dan Pelatihan Nasional HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) 2010 bertema “Optimizing Application of HACCP to Reduce Food Adulteration” yang diadakan selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 30 Maret s.d 01 April 2010 di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya-Malang oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (HIMALOGISTA) UNIBRAW.

DSC00621          Hari pertama dapat dikatakan sebagai hari yang penuh dengan basic dalam pengenalan dan peningkatan pemahaman mengenai HACCP. Materi yang disampaikan diantaranya adalah “Food Safety Management System” oleh Ir. Tri Wahono, “Food Adulteration” oleh Drs. M. Muchtar, Apt. MH selaku Kabid Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM Jatim, dan Implementasi HACCP oleh Fajar Nur Prabowo, SP selaku tim HACCP dari PT Greenfield Indonesia. Banyak hal yang dijabarkan di masing-masing sesi, diantaranya bagaimana memahami dan aplikasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan (SKMP) sesuai standar baik nasional maupun internasional dengan mempertimbangkan berbagai aspek, salah satunya yang terkenal adalah ISO baik 15161 yang cukup konsen dalam manajemen mutu maupun ISO 22000 mengenai sistem keamanan pangan.

          Dalam regulasi pangan, Bapak Muchtar menjelaskan bahwa pemerintah bersama BPOM senantiasa menerapkan manajemen, bina, dan kontrol bukan hanya untuk menjamin keamanan pangan melainkan juga mutu dan kualitas produk termasuk dalam hal public acceptable dan Good Hygiene Practice (GHP). Kesempatan ini juga digunakan Greenfield untuk berbagi bahwa selama ini standar susu aman versi PT Greenfield diantaranya bebas dari bahaya (hazard), sesuai dengan kebutuhan nutrisi konsumen, mempunyai shelf life panjang tapi tetap memberikan kesegaran, tidak mengandung adulteration, kemasan yang mampu melindungi dari kontaminasi maupun kerusakan, dan kesesuaian dengan aturan yang berlaku.

image  26290_116528258358295_100000033632584_288971_6661613_n

          Hari kedua dan ketiga sepenuhnya diisi oleh Training of HACCP System oleh Mbrio Biotekindo. Hari kedua merupakan pembekalan bagaimana mengaplikasikan 12 tahap HACCP dan 7 prinsip HACCP yaitu analisa bahaya, penentuan titik kritis, penetapan batas kritis, penetapan prosedur monitoring, penetapan tindakan koreksi, penetapan prosedur verifikasi dan pengembangan sistem rekaman. Selanjutnya, peserta diberi kasus untuk membuat Rencana Kerja Jaminan Mutu (RKJM) sebagai implementasi HACCP dengan tiga topik utama yang dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain produk ikan kaleng, makanan pendamping ASI/ bubur bayi, dan sari buah. Kasus inilah yang akan dipersentasikan pada hari ketiga oleh semua kelompok.

          Peserta merasa sangat puas dan harapannya dapat lebih memahami bagaimana kebijakan mutu, menyusun tim HACCP yang multidisiplin ilmu, menyusun deskripsi produk, karakteristik bahaya, persyaratan dasar, membuat diagram alir produk, identifikasi bahaya, penetapan Critical Control Point (CCP), Control Measurement, sampai pada prosedur verifikasi, penarikan kembali, pengaduan konsumen, dan mengenai prosedur amandemen produk suatu perusahaan.