ShoutMix chat widget

INFO PENERIMAAN MAHASISWA BARU 2010/2011

@ AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA (01 Februari s.d 23 Agustus 2010)
@ INSTITUT SAINS TERAPAN DAN TEKNOLOGI SURABAYA (online)
@ INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA
> Gelombang I (Mei s.d Juni 2010)
> Gelombang II (Juli 2010)
@ INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (online)
@ INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER (04 Januari s.d 02 April 2010)
@ SEKOLAH TNGGI INFORMATIKA & KOMPUTER INDONESIA
@ SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR TRISAKTI (online)
@ STIKES SANTO BORROMEUS
> Gelombang Ia (02 November 2009 s.d 12 Maret 2010)
> Gelombang Ib (13 Maret s.d 27 Mei 2010)
> Gelombang II (31 Mei s.d 16 Juli 2010)
> Gelombang III (19 Juli s.d 12 Agustus 2010)
@ STIKS TARAKANITA (01 September 2009 s.d 31 Juli 2010)
@ UNIVERSITAS AIRLANGGA (sudah dibuka 0_0)
@ UNIVERSITAS ATMAJAYA YOGYAKARTA
> Jalur Ranking (01 September 2009 s.d 30 April 2010)
> Jalur Rapor (01 September 2009 s.d 30 April 2010)
> Jalur NEM (01 Juni 2010 s.d 31 Juli 2010)
> Jalur Non Akademik (01 September 2009 s.d 29 Januari 2010)
> Jalur Antara (01 September 2009 s.d 29 Januari 2010)
> Jalur Kerja Sama (01 September 2009 s.d 29 Januari 2010)
> Jalur Reguler Periode I (03 Mei s.d 11 Juni 2010), Periode II (14 Juni s.d 09 Juli 2010), Periode III (12 Juli s.d 06 Agustus 2010)
> Jalur PSSB (02 Nopember 2009 s.d 29 Januari 2010)
> Jalur Beasiswa (akan diinformasikan)
@ UNIVERSITAS GUNADARMA (daftar online)
@ UNIVERSITAS INDONESIA (donwload info rev 1.1)
> PPKB (November 2009), SIMAK (11 April 2010), KSDI (15 Mei 2010), Prestasi (15 Mei 2010)
@ UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA (01 Desember 2009 s.d 04 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
> Penelusuran Bibit Unggul Daerah (01 Februari s.d 30 April 2010)
> Ujian Masuk Jalur Mandiri (19 Juli s.d 30 Juli 2010)
@ UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG (on site)
@ UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
> USM I (17 Desember 2009 s.d 26 Januari 2010)
> USM II (07 Februari s.d 04 Mei 2010)
> USM III (17 Mei s.d 20 Juli 2010)
@ UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
> Jalur Prestasi Tahap I (01 September s.d 30 Oktober 2009), Tahap II (02 Nopember 2009 s.d 04 Januari 2010), Tahap III (18 Januari s.d 26 Februari 2010), Tahap IV (01 Maret s.d 16 April 2010)
> Jalur Kerja Sama (15 Februari s.d 05 Maret 2010)
> Jalur Reguler Gelombang I (03 Mei s.d 18 Juni 2010), Gelombang II (21 Juni s.d 16 Juli 2010), Gelombang III (19 Juli s.d 03 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA (September 2009 s.d April 2010)
> Jalur Penelusuran Prestasi Siswa
> Jalur Penulusuran Potensi Akademik Siswa
@ UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
> Jalur Tanpa Tes (14 September 2009 s.d 30 Juni 2010)
> Jalur Tes Gelombang I (29 Mei 2010), Gelombang II (10 Juli 2010)
> Jalur Tes Harian (01 April s.d 13 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS MEDAN AREA (mulai Juni 2010)
@ UNIVERSITAS PAKUAN
> Gelombang I (05 Januari s.d 20 Mei 2010)
> Gelombang II (24 Mei s.d 03 Juli 2010)
> Gelombang III (05 Juli s.d 07 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS PANCASILA
> Gelombang I (09 November 2009 s.d 27 Maret 2010)
> Gelombang II (28 Maret s.d 25 Juni 2010)
> Gelombang III (26 Juni s.d 20 Agustus 2010)
@ UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
> Jalur Prestasi Periode V (04 s.d 30 Januari 2010), Periode VI (01 Februari s.d 27 Februari 2010), Periode VII (01 Maret s.d 20 Maret 2010), Periode VIII (22 Maret s.d 22 April 2010)
> Jalur Tes (01 September 2009 s.d 23 April 2010)
> Jalur Reguler Gelombang I (03 Mei s.d 04 Juni 2010), Gelombang II (07 Juni s.d 01 Juli 2010), Gelombang III (05 s.d 29 Juli 2010)
@ UNIVERSITAS SURABAYA (30 November 2009 s.d 19 Januari 2010)
@ UNIVERSITAS TARUMANEGARA (s.d Agustus 2010) DOWNLOAD
@ UNIVERSITAS TRISAKTI (online)

Rabu, 07 Juli 2010

POSYANDU : PARTISIPASI atau KEPATUHAN MASYARAKAT ??

Gambaran Umum Masalah

Ø Pembagian tugas antar kader dan staf puskesmas dalam pelaksanaannya masih terbalik

Ø Jadwal posyandu masih ditentukan oleh pihak puskesmas

Ø Birokrasi informasi pelaksanaan program pelayanan kesehatan masih berbelit-belit sehingga masyarakat tidak mengetahui tujuan posyandu

Ø Disfungsi kader terpilih

Ø Partisipasi aktif kader hanya untuk mencari popularitas di mata masyarakat

Ø Tenaga kesehatan memandang tidak ada gunanya melatih calon kader karena tidak menjamin bahwa kader yang dilatih akan membantu mereka dalam jangka waktu yang cukup berarti

Ø Kader hanya sebagai formalitas saja

Ø Petugas kesehatan tidak memahami pokok permasalahan sebenarnya sehingga langsung men-judge secara sepihak

Ø Program posyandu yang dianggap penting oleh masyarakat mendapat perhatian lebih, sedangkan yang tidak penting akan mereka abaikan

Masalah secara Spesifik

Ø Faktor Personal

1. Kader

§ Kurang bisa mempengaruhi masyarakat

§ Kurang pengetahuan

§ Tingkat kepedulian masih rendah

§ Kesibukan kader di aktivitas yang lain

2. Tenaga Kesehatan

§ Kurangnya kompetensi untuk melakukan pelatihan ke kader

§ Merasa benar sendiri

§ Menganggap kader sebagai formalitas

3. Masyarakat

§ Kurang peduli (menganggap kurang penting)

§ Punya kesibukan sendiri

§ Lebih percaya pada mitos daripada pengetahuan medis

§ Tidak merasa memiliki posyandu

§ Merasa bahwa kader bukan merupakan sosok panutan mereka

Ø Faktor Lingkungan

1. Budaya masyarakat sekitar

2. Mitos di masyarakat

3. Kebijakan puskesmas/pusat tentang perekrutan kader dan tenaga kesehatan yang berkompetensi

4. Dukungan perangkat desa

5. Keengganan tokoh masyarakat kunci untuk datang karena kader terkadang bukan panutan

6. Kader terpelajar sulit direkrut dalam jangka waktu yang lama

7. Tingkat ekonomi kader tergolong menengah ke bawah

Ø Faktor Perilaku

1. Masyarakat enggan berinteraksi dengan tenaga kesehatan dan enggan kembali lagi sehingga tidak terjadi interaksi yang kontinu

2. Kurangnya pelatihan kader secara kontinu

more (….) <DOWNLOAD> selengkapnya

NAKES TERPERANGKAP DALAM KONFLIK TRADISI PENGOBATAN TRADISIONAL YANG BERBEDA

          Pasien diklasifikasikan ke dalam berbagai kategori berdasarkan kelas sosial ekonomi dan tingkat pendidikan sebelum dihubungkan dengan pola perilaku pemikiran tertentu. Pasien dari tingkat social ekonomi dan pendidikan yang lebih tinggi, lebih mendukung tradisi biomedis. Sementara sebaliknya, pasien dari tingkat social ekonomi dan pendidikan rendah lebih mendukung atau memilih pegobatan tradisional. Di samping itu, pada kenyataannya pasien memiliki bermacam-macam perasaan terhadap pengobatan yang diterimanya, mulai dari pengobatan biomedis sampai pada pengobatan tradisional, sehingga masyrakat terkesan barganti-ganti dalam mengambil teknik pengobatan untuk dirinya. Hal itu diperkuat oleh Studi masyarakat Hausa di Nigeria Utara yang menunjukkan bahwa “ketidaktauan” merupakan aspek yang penting dari pengetahuan dan praktek pengobatan terhadap pasien yang diberikan oleh tenaga kesehatan.

          Didasarkan atas observasi, bahwa tenaga kesehatan di daerah pedesaan Jawa Tengah menghadapi tradisi pengobatan lainnya dengan sikap dualisme. Dalam kehidupan profesional, mereka menentang segala bentuk integrasi dengan pengobatan tradisional. Namun, dalam lingkup pribadi mereka dengan mudah memanfaatkan jenis-jenis pengobatan tradisional. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi ketidak konsekuensian dan ketidaksinkronan pada tenaga kesehatan ketika menerapkan prinsip pengobatan di masyarakat.

          Kebanyakan tenaga kesehatan, para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya di Jawa Tengah menyadari kalau pelayanan yang mereka berikan kepada mayarakat hanyalah satu di antara banyak alternatif yang dapat dipilih oleh masyarakat. Di samping pengobatan medis, di sana pun tersedia pengobatan tradisional Jawa, baik berupa pengobatan melalui perantara dukun maupun pengobatan dengan ramuan jawa. Di antara banyaknya tersebut, petugas tenaga kesehatan beranggapan praktek-praktek pengobatan Jawa tradisional hanya cocok untuk masyarakat “tidak maju” tertinggal dalam arus modernisasi yang belum bisa menghargai manfaat tradisi biomedis. Mereka sepakat bahwa praktek tersebut tidak ada gunanya dan merupakan peninggalan jaman dulu. Bahkan, lebih jauh lagi, mereka menganggap salah satu pengobatan tradisional, yaitu pengobatan ke dukun bayi adalah hal yang bodoh dan hanya dilakukan oleh “orang yang bodoh’. Berikut adalah cuplikan kalimat seorang bidan yang menanggapi tentang pengobatan ke dukun bayi. “Saya pernah melihat seoranga anak mati karena dukun bayinya tidak menggunakan alat yang steril. Seluruh badannya membiru. Kami memberikan gunting, perban, dan alat-alat kesehatan kepada dukun untuk membantunya melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Namun, mereka tidak mendengarkan dan masih saja memotong ari-ari dengan sebilah bambu. Inilah yang menyebabkan infeksi dan karenanya banyak bayi yang kemudian meninggal

          Penolakan publik terhadap cara pengobatan Jawa tersebut tidak tercermin dalam lingkup hidup tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan sering meminta tukang pijat untuk memijat mereka pada fase awal masuk angin bilamana badan terasa lelah. Begitu pula staff Puskesmas perempuan umumnya dibantu oleh dukun bayi ketika melahirkan anak-anak mereka. Bahkan para bidan yang seringkali menunjukkan sikap bermusuhan pada kolega tradisionalnya, ternyata dalam percakapan informal mengatakan bahwa mereka juga pernah memanfaatkan pelayanan dukun bayi, kerokan dan dengan jamu serta ramuan-ramuan yang juga cukup popular diantara tenaga kesehatan, hingga 85% diantara mereka menggunakannya. Hal ini terlihat tidak sinkron jika melihat cara mereka yang berkebalikan dengan yang mereka ucapkan selama ini

          Di lingkup formal, tenaga kesehatan menolak segala jenis pengobatan tradisional. Namun secara pribadi, mereka biasa memanfaatkannya. Misalnya pengobatan Jawa tradisional, secara ideologis tidak dapat diterima oleh model konseptual biomedis. Namun, secara faktual tenaga kesehatan menggunakannya. Maka dari itu, untuk konflik di dalam dirinya yang tidak sesuai, para tenaga kesehatan memilih bersikap dualisme dengan membagi loyalitas antara tradisi-tradisi pengobatan yang berbeda sesuai dengan lngkungan sosial dimana mereka berada. Jadi secara tidak langsung mengakui manfaat dari keberadaan pengobatan tradisional di sekitar mereka (more…)

DOWNLOAD selengkapnya <versi 1> dan <versi 2>

SUNTIK YA ?

          Sebuah penelitian di Puskesmas Salam Jawa Tengah, pada tanggal 10 Nopember 1990 pukul 09.00 WIB.

PERMASALAHAN

          Adapun permasalahan yang Puskesmas Salam Jawa Tengah ini, sebagai berikut :

1. Pengobatan secara suntik merupakan pengobatan utama di puskesmas ini, meskipun pada dasarnya penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan pengobatan secara oral.

2. Pemberian pengobatan secara suntikan menyebabkan variasi obat di puskesmas ini rendah. Hanya ada 5 variasi obat.

3. Puskesmas juga mengalami kekurangan dana untuk memenuhi kebutuhan suntikan. Selain itu, vitamin yang digunakan merupakan vitamin dengan harga yang murah.

4. Dalam melakukan pengobatan, di puskesmas ini jarang dilakukan pemeriksaan fisik, anamnesis, pemberian informasi mengenai penyakit pasien, tidak ada penyampaian diagnosis dan alokasi waktu untuk menjawab pertanyaan pasien.

5. Untuk menekan dana tersebut, maka 1 buah suntikan digunakan untuk 10-15 pasien. Pemberian suntikan bergantian juga terjadi pada saat mengobati PSK (Pekerja Seks Komersial) yang mengalami PMS (Penyakit Menular Seksual).

6. Kepopuleran pengobatan suntik ini dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti :

a) Kesuksesan dalam mengobati beri-beri dan kala azar.

b) Kepercayaan masyarakat bahwa kesembuhan dapat diperoleh setelah menderita terlebih dahulu.

c) Pelayan kesehatan akan mendapat pengakuan sosial sebagai wakil sah dari pengobatan biomedis jika sering memberikan pengobatan secara suntik kepada pasiennya.

d) Kepercayaan dari sisi tenaga kesehatan (pelayan kesehatan) bahwa obat dapat mencapai sasaran dengan cepat melalui suntikan. Bahkan, pada saat seorang perawat lupa membawa alat suntik pada saat akan mengobati pasien, maka perawat tersebut akan mencubit pantat pasien seolah-olah disuntik dan tindakan ini dilakukan atas permintaan pasien.

e) Kepercayaan bahwa pengobatan secara suntik merupakan pengobatan yang paling esensial merupakan kepercayaan turun-temurun. Namun, saat ini generasi muda dan ibu-ibu yang memiliki balita sering melakukan penolakan terhadap pengobatan suntik. Hal ini secara dominan disebabkan oleh ketakutan akibat adanya reaksi alergi dan demam tinggi pada balita setelah disuntik sehingga ibu menjadi panik.

f) Keberatan pasien bukan berarti pasien akan menolak untuk disuntik sebab sebagai pasien diharapkan mengikuti segala perintah dari ahli medis dan merupakan suatu tindakan yang tidak pantas dan tidak sopan bagi masyarakat desa dengan strata ekonomi lebih rendah untuk menolak anjuran orang dengan status sosial lebih tinggi (perawat).

7. Kepercayaan bahwa suntikan merupakan pengobatan yang manjur dan membawa keselamatan. Pemberian suntikan dianggap sebagai tugas paling esensial bagi tenaga kesehatan kepada pasien dan tenaga kesehatan berpikir bahwa pasien akan menerimanya.

more (…..) <DOWNLOAD> selengkapnya

PROGRAM KB : DEMI KESEHATAN PEREMPUAN ?

          Program KB secara formal merupakan wewenang BKKBN. Badan ini mengkoordinir seluruh upaya pengendalian fertilitas melalui sebuah system yang hirarkis dan mengikuti struktur administrasi negara. Dalam system pertanggungjawaban bertingkat ini, segala keputusan berada di tangan BKKBN Pusat dan ditindaklanjuti pemerintah tingkat provinsi dan kabupaten untuk diimplementasikan di masyarakat. Lebih khusus lagi, realisasi program dipercayakan kepada petugas BKKBN di tingkat kecamatan, yaitu Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan pengawasnya yang disebut Pimpinan PLKB atau PPLKB. Mereka ditugasi untuk merealisasikan program KB dengan mengarahkan perilaku fertilitas masyarakat agar memenuhi target kebijakan nasional. Untuk mencapai tujuan ini para PLKB harus bekerja sama dengan institusi-institusi lain di tingkat kecamatan, sekaligus mencari dukungan dari berbagai organisasi yang bergerak di tingkat lokal.

          Kerja sama antara tim PLKB dan tenaga puskesmas merupakan syarat utama untuk merealisasikan program KB. Di dalam pembagian kerja di antara PLKB dan staf puskesmas meliputi petugas PLKB merekrut akseptor-akseptor dan meberikan penyuluhan kepada mereka, sedangkan tenaga puskesmas memberikan bantuan medis. Meskipun terdapat kebijakan bahwa puskesmas juga bertugas melaksanakan program pendidikan KB, tetapi dalam prakteknya kegiatan ini jarang dilakukan dan puskesmas hanya berfungsi dalam melakukan semua tindakan teknis-medis.

          PLKB mempunyai satu tujuan yaitu mengimplementasikan program KB dan pencapaian target akseptor menjadi lebih penting dibanding tujuan umum posyandu yaitu meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Di sisi lain, tenaga puskesmas lebih peduli terhadap kesehatan anak dan ibu hamil serta program KB hanyalah salah satu dari 17 program yang harus dilaksanakan dan belum tentu menduduki proiritas utama disbanding kegiatan yang lain. Akan tetapi, oleh karena staf puskesmas disubordinasikan pada PLKB dalam menerapkan program KB maka mereka harus mengikuti kemauannya meskipun seringkali hal itu berarti bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan umum harus disisihkan. Akibatnya implementasi program Keluarga Berencana lebih memprioritaskan pencapaian target kependudukan daripada memprioritaskan kesehatan perempuan. Tenaga puskesmas merasa tidak bebas dalam mengatur dan menjalankan tugasnya serta merasa ditekan agar mengesampingkan kepeduliannya terhadap kondisi kesehatan ibu demi kepentingan tim PLKB yang berusaha meningkatkan jumlah akseptor.

          Inti permasalahan di atas terjadi pada level community di mana terjadi permasalahan yang melibatkan 2 organisasi yaitu PLKB dan puskesmas. Teori yang dapat digunakan untuk melakukan perubahan perilaku berdasarkan leverl sasaran community ini adalah Organizational Change Theories dan Community Mobilization Theories. Namun, dalam permasalahan ini lebih diprioritaskan pada teori yang pertama, yaitu Organizational Change Theories. Hal ini didasarkan pada kurang adanya kerjasama dan koordinasi yang baik antar organisasi-organisasi dalam merealisasikan program KB

more (……) <DOWNLOAD> selengkapnya

PERSPEKTIF GENDER DALAM PROGRAM-PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI : SEBUAH TANTANGAN

          Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya Konferensi Kependudukan Dunia (ICPD) di Cairo pada tahun 1994 yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), membahas kompleksitas hubungan antara kebutuhan kesehatan seksual dan reproduksi perempuan serta kebijakan kependudukan an pembangunan pada tingkat global. Dari sini, ditemukan adanya paradigma baru tentang kesehatan reproduksi yang memberikan perhatian pada subordinasi perempuan dan bertujuan meningkatkan status perempuan agar pembangunan yang berkelanjutan dapat terwujud.

          Pada makalah ini ada beberapa contoh kasus yang terjadi di Indonesia untuk menguak permasalahan kesehatan reproduksi perempuan dan mencoba mencari solusinya. Pengalaman di Indonesia menyebutkan bahwa perempuan tidak mudah menuntut hak-hak seksual dan reproduksi dalam lingkup rumah tangga apabila mereka tidak memiliki kekuasaan dalam lingkup social yang luas. Salah satu contoh adalah budaya patriarki Batak di Sumatera Utara, dimana perempuan sangat tersubordinasi pada laki-laki. Bahkan ketika pengambilan keputusan apakah perempuan tersebut menginginkan untuk melakukan hubungan seks, memakai pengaman (kondom) untuk mencegah penularan PMS serta AIDS, perempuan Indonesia cenderung tidak berani mengkomunikasikannya dengan sang suami. Sehingga upaya apapun untuk memberikan tambahan pengetahuan mereka terkait dengan penyebaran PMS dan AIDS akan termentahkan karena perempuan tersebut tidak mampu menyampaikannya pada suami.

          Seringkali program-program kesehatan reproduksi tersebut dianggap bertentangan dengan kajian teologis. Padahal, jika mau mengkaji lebih jauh dalam ajaran Islam, bahwa perempuan sangat dihargai dan dilindungi dalam setiap hukumyang diterapkan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan (pernikahan). Akhirnya para perempuan ini meminta LSM yang memberikan mereka penyuluhan, juga memberikan pengertian pada suami mereka, dengan pertimbangan bahwa tetap saja pengambil keputusan dalm keluarga ada pada suami mereka.

          Namun, di lain pihak banyak yang memperdebatkan bahwa mengubah hubungan jender pada tingkat rumah tangga, khususnya mengenai persoalan hubungan seks jauh lebih sulit dibandingkan mengubah hubungan jender pada tingkat masyarakat. atau bisa jadi program kesehatan reproduksi yang menitikberatkan pada perempuan gagal karena kurangnya perhatian pada pihak laki-laki yang dianggap sebagai penentu kebijakan dalam keluarga.

          Kemudian sasaran program diubah. Yaitu dengan pengenalan alat kontrasepsi pada laki-laki (kondom dan vasektomi) yang telah dirintis sejak 1970-an. Partisipasi laki-laki diharapkan dapat mendukung program kesehatan reproduksi keluarga. Ini dianggap sebagai kunci keberhasilan progam tersebut, karena ada anggapan bahwa sebenarnya untuk mensukseskan program ini, perempuan tidak perlu dilibatkan banyak, karena laki-laki disini masih memegang keputusan, apakah program ini dapat dilakukan dalam keluarga mereka. Sehingga program dialihkan focus pada kaum laki-laki.

          Ternyata dibalik ide besar itu, kita dihadapkan lagi dengan problem, bahwa program tersebut justru memperkuat ketidaksetaraan jender. Dimana para istri menjadi sangat tidak diliatkan dalam pengambilaj keputusan terkait dengan masalah reproduksi. Para perempuan justru menjadi cemas, karena mengkhawatirkan suaminya akan menyeleweng ketika mereka berada di luar rumah, karena merasa ‘aman’ dari penyebaran PMS dan AIDS. Dua hal yang bertentangan namun dapat terjadi beriringan. Seperti dua koin yang memiliki satu sisi baik dan sisi yang lainnya buruk. (more……)

DOWNLOAD selengkapnya <versi 1> dan <versi 2>

HEALTH BELIEF MODEL SEBAGAI ALAT MELAKUKAN PERUBAHAN PERILAKU PADA LEVEL INDIVIDU

          Teori Health Belief Model didasarkan pada pemahaman bahwa seseorang akan mengambil tindakan yang akan berhubungan dengan kesehatan. Teori ini dituangkan dalam lima segi pemikiran dalam diri individu,yang mempengaruhi upaya yang ada dalam diri individu untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya, yaitu perceived susceptibility (kerentanan yang dirasakan/ diketahui), perceived severity (bahaya/ kesakitan yang dirasakan), perceived benefit of action (manfaat yang dirasakan dari tindakan yang diambil), perceived barrier to action (hambatan yang dirasakan akan tindakan yang diambil), cues to action (isyarat untuk melakukan tindakan). Hal tersebut dilakukan dengan tujuan self efficacy atau upaya diri sendiri untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya.

          Tiga faktor penting dalam Health Belief Model, yaitu :

1. Kesiapan individu untuk merubah perilaku dalam rangka menghindari suatu penyakit atau memperkecil risiko kesehatan.

2. Adanya dorongan dalam lingkungan individu yang membuatnya merubah perilaku.

3. Perilaku itu sendiri.

          Ketiga faktor di atas dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti persepsi tentang kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk memperkecil kerentanan terhadap penyakit, adanya kepercayaan bahwa perubahan perilaku dapat memberikan keuntungan, penilaian individu terhadap perubahan yang ditawarkan, interaksi dengan petugas kesehatan yang merekomendasikan perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba perilaku yang serupa.

          Dalam kasus yang terjadi di Jawa Tengah sesuai penelitian yang dilakukan dari bulan Agustus 1989 sampai Oktober 1990 di Salam Kabupaten Magelang. Permasalahan terjadi antara pasien dan tenaga kesehatan di PUSKESMAS. Adanya hambatan dalam komunikasi, mitos yang berkembang di masyarakat, dan masalah financial.

Sesuai dengan teori health belief model

1. Perceived susceptibility:

masyarakat beranggapan jika mereka tidak disuntik mudah tertular penyakit. Selain itu mereka juga mengetahui efek samping dari suntik yaitu demam (biasanya pada anak-anak)

2. Perceived severity:

mereka tidak suntik maka mereka tidak akan sembuh

3. Perceived benefit of action :

masyarakat paham bahwa jika mereka disuntik maka akan sembuh

4. Perceived barrier to action :

Masyarakat percaya bahwa seseorang harus menderita terlebih dahulu untuk sembuh

5. Cues to action :

Pasien sudah mengerti kebiasaan seperti apa yang harus mereka lakukan saat berobat ke puskesmas, yaitu setelah memberikan keluhan yang dirasakan saat itu, dokter memberikan pertanyan sugestif “suntik, ya?”, dengan spontan pasien akan berbaring dan membuka celananya siap untuk disuntik.

more (……) <DOWNLOAD> selengkapnya

Minggu, 20 Juni 2010

KUNJUNGAN LAPANGAN IKM B 2008 ke BENOWO

 imageDewasa ini seiring dengan perkembangan jaman, pertumbuhan sektor industri turut mengiringi upaya pembangunan nasional bangsa. Bukan hanya pembangunan yang bersifat materiil saja yang patut diperhatikan melainkan dampak dari proses pembangunan tersebut juga memerlukan perhatian khusus. Hal ini terutama terkait dengan limbah domestik maupun hasil industri yang berpotensi mempengaruhi kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitarnya. Optimalisasi proses penanggulangan yang disertai dengan upaya pencegahan mulai digalakkan dan dilindungi oleh peraturan pemerintah, salah satunya melalui pendidikan yang memfokuskan perhatiannya pada pengaruh faktor lingkungan terhadap kesehatan prevetif, promotif, dan protektif.

          Salah satu profesi yang bertanggung jawab untuk poaktif memberikan solusi terhadap permasalahan yang timbul sebagai dampak limbah terhadap kesehatan lingkungan adalah tenaga ahli kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, proses pembelajaran memerlukan suatu kunjungan lapangan yang dapat membantu mahasiswa lebih kenal dan paham terhadap kondisi sebenarnya di lapangan sehingga teori lebih dapat teraplikasikan dengan baik. Mata kuliah Pengolahan Limbah merupakan salah satu mata kuliah yang diajarkan oleh Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UNAIR yang peduli dan concern dengan kesehatan lingkungan termasuk dampak limbah bagi lingkungan. Hal inilah yang sangat membantu mahasiswa dalam mengoptimalkan proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dengan pengadaan kunjungan lapangan yang menyertainya

          Kegiatan ini bertujuan memfasilitasi mahasiswa dalam mengenal medan/ lapangan sesungguhnya sehingga dapat menjadi kesempatan setiap individu untuk mengimplementasikan teori yang sudah dipelajari perkuliahan. Kegiatan diarahkan pada pengamatan pengolahan limbah dan memicu semua mahasiswa untuk peka dan proaktif dalam memberikan solusi atas masalah yang ditimbulkan sebagai dampak limbah domestik maupun industri terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan di sekitarnya. Kunjungan lapangan ini diharapkan dapat mendukung pemahaman mahasiswa khususnya mengenai pengolahan limbah sekaligus belajar mengoptimalkan upaya pemberdayaan masyarakat sebagai faktor utama solusi atas permasalahan lingkungan yang terjadi di sekitarnya

clip_image002

        Diperkiraan produksi sampah dari masyarakat seluruh Surabaya mencapai 8.700 meter kubik per hari. Dan luas lahan di TPA Benowo 7,3 hektar. TPA Benowo selain menampung sampah dari Surabaya juga menampung sampah yang berasal dari kota terdekat seperti Sidoarjo dan Gresik. TPA Benowo menampung sampah sebanyak 1300 ton per hari. Ada proses pemisahan terlebih dahulu oleh para pemulung. Jam kerja TPA Benowo 07.00 – 15.00.

          Pada umumnya penanganan sampah yang baik diterapkan pada sebuah tempat pembuangan akhir yaitu dengan sistem sanitary landfill yakni sampah yang telah masuk di TPA kemudian ditutupi tanah lempung agar tidak menimbulkan bau yang menyengat dan dilakukan setiap hari, namun pada tempat pembuangan akhir Benowo tidak menggunakan sistem tersebut melainkan sistem yang dipakai yaitu System Open Dumping atau boleh dikatakan Semi Sanitary Landfill pada TPA tersebut setiap 3 sampai 4 minggu bahkan terkadang satu tahun sekali dilakukan penimbunan tanah  lempung dengan tebal 40 cm terhadap sampah yang telah dipadatkan atau ketika sampah telah menumpuk hingga setinggi 3,75 meter

<DOWNLOAD LAPORAN> selengkapnya

Senin, 07 Juni 2010

GROUP DYNAMICS for HEALTH PROVIDER (Peran Dinamika Kelompok untuk SKM)

          Pembangunan kesehatan ditujukan pada terwujudnya derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan secara optimal. Derajat kesehatan masyarakat yang dimaksud menurut HI. Blum dipengaruhi oleh 4 faktor diantaranya lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan herediter atau genetiknya. Dari keempat faktor tersebut, salah satunya adalah faktor perilaku (behaviour) yang merupakan faktor yang dapat diintervensi dengan kompetensi-kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dapat beraktualisasi dalam upaya - upaya kesehatan seperti upaya promotif dan preventif karena upaya kuratif dan rehabilitatif merupakan wilayah klinik yang bukan ranah kompetensi dari SKM.

          Dalam melakukan intervensi faktor perilaku, tentu saja harus memperhatikan dan mengenali masyarakat terlebih dahulu. Sasaran dari intervensi perilaku tersebut tidak hanya difokuskan pada individu semata, tetapi juga kelompok-kelompok dalam suatu masyarakat karena pada masyarakat, jalinan hubungan dan saling ketergantungan individu terhadap anggota-anggota lainnya sangat jelas dan hal ini akan mempengaruhi individu di dalam kelompok-kelompok tersebut. Kehidupan kelompok lebih merupakan cerminan dari gaya hidup masyarakat yang berorientasi ke dalam dan terjadi interaksi di antara individu yang didasarkan atas ikatan perasaan, baik perasaan dalam hal saling mengisi dalam setiap peristiwa sosial, maupun perasaan untuk saling melindungi antar sesama anggota kelompok. Keadaan ini akan terjadi selama semangat kelompok (Group spirit) terus menerus berada dalam kelompok tersebut dan kelompok ini selalu bersifat dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan tuntutan jaman.

          Ketika melakukan intervensi faktor perilaku terhadap masyarakat, maka akan dapat diterapkan adanya suatu dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan suatu metode dan proses yang bertujuan meningkatkan nilai kerjasama kelompok. Artinya metode dan proses dinamika kelompok ini berusaha menumbuhkan dan membangun kelompok yang semula terdiri dari kumpulan individu yang belum saling mengenal satu sama lain menjadi satu kesatuan kelompok dengan satu tujuan, satu norma dan satu cara pencapaiannya yang disepakati bersama. Dinamika kelompok ini dapat diterapkan terhadap masyarakat ataupun di dalam lingkup Kesehatan Masyarakat itu sendiri sehingga akan mendapatkan hasil yang optimal dalam upaya pencapaian derajat kesehatan masyarakat.

          Dalam upaya mencapai kesehatan yang optimal tersebut, tentunya ada indikator-indikator tentang kesehatan masyarakat yang harus dipenuhi. Indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan- perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Suatu indikator tidak selalu menjelaskan keadaan secara keseluruhan, tetapi pada umumnya hanya petunjuk (indikasi) tentang keadaan keseluruhan tersebut sebagai suatu pendugaan. Indikator kesehatan merupakan ukuran yang menggambarkan atau menunjukkan status kesehatan sekelompok orang dalam populasi tertentu, misalnya angka kematian kasar. Penetapan indikator kesehatan ini tidak selalu mutlak seragam diterapkan di seluruh daerah atau wilayah negara. Penetapan indikator kesehatan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh daerah atau wilayah negara itu sendiri. Salah satu contoh indikator kesehatan adalah indikator “Indonesia Sehat 2010”  yang digunakan untuk  meningkatkan status kesehatan masyarakat Indonesia. Indikator ini dibagi ke dalam beberapa kelompok, antara lain :

a.  Indikator Derajat Kesehatan yang merupakan hasil akhir, yang terdiri atas indikator-indikator mortalitas, indikator-indikator morbiditas, dan indikator-indikator status gizi.

b.  Indikator Hasil Antara, yang terdiri atas indikator-indikator keadaan lingkungan, indikator-indikator perilaku hidup masyarakat, serta indikator-indikator perilaku hidup masyarakat, serta indikator-indikator akses dan mutu pelayanan kesehatan.

c.  Indikator Proses dan Masukan, yang terdiri atas indikator-indikator pelayanan kesehatan, indikator-indikator sumber daya kesehatan, indikator-indikator manajemen kesehatan,  dan indikator kontribusi sektor-sektor terkait.

          Akan tetapi, hingga memasuki tahun 2010 pun upaya-upaya peningkatan kesehatan juga belum berjalan optimal walaupun telah ditetapkan berbagai program kesehatan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah faktor tenaga kesehatan, khususnya lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Oleh karena itu, dalam mencapai indikator-indikator kesehatan untuk upaya peningkatan kesehatan secara keseluruhan ini, SKM dapat menerapkan berbagai cara efektif sehingga mampu mencapai peningkatan kesehatan masyarakat yang optimal dengan melakukan intervensi perilaku menggunakan berbagai permainan dalam dinamika kelompok untuk mengintervensi pola perilaku dari masyarakat ataupun juga untuk membangun tim dalam mengintervensi masyarakat.

          Berbagai macam permainan telah dirancang dalam dinamika kelompok dan hal tersebut memberikan manfaat yang sangat banyak, antara lain dapat membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup, memudahkan segala pekerjaan, mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat dengan efektif dan efisien. Beberapa contoh permainan dalam dinamika kelompok antara lain Leadership-games, Psycho-drama, Role-playing games, Trust-building games, Group problem solving activities, management conflict dan Communication games.

          Salah satu contoh permainan yang dapat diaplikasikan dan juga dibutuhkan sebagai pembekalan SKM disini adalah Communication Games. Communication Games merupakan bentuk permainan …..(more)

by : Budi Eko Siswoyo, dkk

selengkapnya <DOWNLOAD>

Minggu, 02 Mei 2010

LIFE TABLE ANALYSIS (Analisis Data Senegal ‘95-'99)

LIFE TABLE FOR THE BANDASSI DSS SITE, SENEGAL, 1995-1999

image

Keterangan :

x (age), M (mortality rate), q (probability of death/ death rate), l (survivor), L (years lived between ages x, x+n), T (years lived, starting at age x), e (life expectancy), d (number of deaths)

Analisis

          Tabel di atas merupakan Life Table for The Bandassi dss site, Senegal tahun 1995-1999. Dalam tabel tersebut menyajikan perbedaan jenis kelamin, sehingga data yang tertera terdiri atas laki-laki dan perempuan. Jumlah tahun yang berjalan setelah kelahiran dibuat dalam bentuk interval dengan 19 kelas di dalamnya, dimulai kurang dari satu tahun sampai lebih dari delapan puluh lima tahun. Seiring dengan umur yang semakin tua, bilangan yang menunjukkan jumlah anggota kohort yang masih hidup pada umur tertentu semakin menurun. Jumlah kematian pada setiap umur dalam interval waktu dikatakan tidak merata. Adapun 5 interval kelas yang menunjukkan jumlah kematian terbanyak, di pria yaitu pada umur kurang dari 1 tahun, kelas antara 1-4 tahun, 60-64 tahun, 65-69 tahun, dan 80-84 tahun, sedangkan dalam anggota perempuan pada umur kurang dari 1 tahun, kelas antara 1-4 tahun, 65-69 tahun, 75-79 tahun, dan 80-84 tahun. Hal ini merupakan salah satu sebab rendahnya jumlah pria menjelang umur 80-84 tahun. Probabilitas kematian pada beberapa umur di atas tidak menentu, terkadang mengalami kenaikan tetapi pada interval umur tertentu mengalami penurunan, begitu seterusnya. Akan tetapi, yang juga dapat terlihat bahwa probability of death rate dari pria lebih terlihat signifikan bukan hanya selisih perubahan tetapi juga nilainya daripada pada perempuan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pada setiap interval umur, jumlah pria selalu lebih kecil daripada perempuan. Probabilitas kematian sebanding dengan jumlah tahun kehidupan kohort life table dalam setiap interval umur, dan juga dengan jumlah tahun kehidupan dari kohort umur x hingga semua individu dalam kohort tersebut meninggal, sehingga perempuan memiliki jumlah tahun kehidupan lebih banyak daripada pria. Hal ini sudah mulai terlihat dari tingginya angka mortalitas bayi/ anak pada awal periode (di bawah umur 5 tahun) yang ditunjukkan dengan nilai Lx makin mendekat lx+1. Oleh karena itu, rata-rata harapan hidup penduduk berjenis kelamin pria lebih rendah daripada perempuan pada setiap interval umur. Hal ini dipertegas kembali dengan keberadaan nilai Mx yang mencerminkan jumlah kematian per kelompok interval umur per 1000 penduduk. Seperti biasa, nilai Mx yang dimiliki oleh pria lebih tinggi daripada perempuan dan ini berarti jumlah kematian pria lebih tinggi daripada perempuan. Keadaan seperti ini bisa jadi akan menimbulkan kesenjangan dari suatu keluarga mengingat harapan hidup pria selaku kepala keluarga lebih rendah daripada perempuan dan menuntut perempuan untuk lebih mandiri dan siap menopang perekonomian jika sewaktu-waktu ditinggal meninggal oleh sang suami atau tulang punggung keluarganya. Perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai penyebab rendahnya harapan hidup pria daripada perempuan pada setiap interval umur dengan beberapa variabel yang dipertimbangkan termasuk terhadap lebih tingginya Mx pada perempuan di atas umur 85 tahun.

Jumat, 16 April 2010

SEMINAR & PELATIHAN NASIONAL HACCP 2010 “Optimizing Application of HACCP to Reduce Food Adulteration”

          Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR) serasa tidak pernah absen baik dalam mengadakan kegiatan maupun mengikuti kegiatan oleh dan untuk mahasiswa. Kali ini, mahasiswa fakultas yang telah terakreditasi A ini mengirimkan 28 mahasiswa delegasinya secara voluenter untuk mengikuti Seminar dan Pelatihan Nasional HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) 2010 bertema “Optimizing Application of HACCP to Reduce Food Adulteration” yang diadakan selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 30 Maret s.d 01 April 2010 di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya-Malang oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (HIMALOGISTA) UNIBRAW.

DSC00621          Hari pertama dapat dikatakan sebagai hari yang penuh dengan basic dalam pengenalan dan peningkatan pemahaman mengenai HACCP. Materi yang disampaikan diantaranya adalah “Food Safety Management System” oleh Ir. Tri Wahono, “Food Adulteration” oleh Drs. M. Muchtar, Apt. MH selaku Kabid Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM Jatim, dan Implementasi HACCP oleh Fajar Nur Prabowo, SP selaku tim HACCP dari PT Greenfield Indonesia. Banyak hal yang dijabarkan di masing-masing sesi, diantaranya bagaimana memahami dan aplikasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan (SKMP) sesuai standar baik nasional maupun internasional dengan mempertimbangkan berbagai aspek, salah satunya yang terkenal adalah ISO baik 15161 yang cukup konsen dalam manajemen mutu maupun ISO 22000 mengenai sistem keamanan pangan.

          Dalam regulasi pangan, Bapak Muchtar menjelaskan bahwa pemerintah bersama BPOM senantiasa menerapkan manajemen, bina, dan kontrol bukan hanya untuk menjamin keamanan pangan melainkan juga mutu dan kualitas produk termasuk dalam hal public acceptable dan Good Hygiene Practice (GHP). Kesempatan ini juga digunakan Greenfield untuk berbagi bahwa selama ini standar susu aman versi PT Greenfield diantaranya bebas dari bahaya (hazard), sesuai dengan kebutuhan nutrisi konsumen, mempunyai shelf life panjang tapi tetap memberikan kesegaran, tidak mengandung adulteration, kemasan yang mampu melindungi dari kontaminasi maupun kerusakan, dan kesesuaian dengan aturan yang berlaku.

image  26290_116528258358295_100000033632584_288971_6661613_n

          Hari kedua dan ketiga sepenuhnya diisi oleh Training of HACCP System oleh Mbrio Biotekindo. Hari kedua merupakan pembekalan bagaimana mengaplikasikan 12 tahap HACCP dan 7 prinsip HACCP yaitu analisa bahaya, penentuan titik kritis, penetapan batas kritis, penetapan prosedur monitoring, penetapan tindakan koreksi, penetapan prosedur verifikasi dan pengembangan sistem rekaman. Selanjutnya, peserta diberi kasus untuk membuat Rencana Kerja Jaminan Mutu (RKJM) sebagai implementasi HACCP dengan tiga topik utama yang dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain produk ikan kaleng, makanan pendamping ASI/ bubur bayi, dan sari buah. Kasus inilah yang akan dipersentasikan pada hari ketiga oleh semua kelompok.

          Peserta merasa sangat puas dan harapannya dapat lebih memahami bagaimana kebijakan mutu, menyusun tim HACCP yang multidisiplin ilmu, menyusun deskripsi produk, karakteristik bahaya, persyaratan dasar, membuat diagram alir produk, identifikasi bahaya, penetapan Critical Control Point (CCP), Control Measurement, sampai pada prosedur verifikasi, penarikan kembali, pengaduan konsumen, dan mengenai prosedur amandemen produk suatu perusahaan.

Sabtu, 13 Maret 2010

TIPS Menurunkan Berat Badan

“Bukan hal yang mudah untuk menurunkan berat badan!”, itulah komentar yang biasa kita dengar. Semua hal pasti sulit kalau kita tidak tahu caranya dan arahnya. Karena itu untuk menurunkan berat badan juga kita harus mengerti caranya. Ada beberapa tips yang bagus untuk anda jalankan, tetapi disini tidak termasuk memutar jarum timbangan badan supaya turun.

image1. Kurangi karbohidrat (nasi, roti, dll) dan hindari lemak (gorengan, santan).
Tetapi jangan anda hilangkan karbohidrat dari porsi makan anda karena karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh, hanya tidak terlalu banyak.

2. Bagi porsi makan anda dari 3 menjadi 6 kali sehari.
Hah? Kok bisa? Tentu saja anda harus membuatnya menjadi setengah porsi tiap kali makan. Kemudian 3 diantara makan tambahan tersebut tidak perlu menggunakan nasi, tetapi buah atau susu non fat.

3. Hindari gula dalam minuman anda!
Minuman yang membawa paling banyak pasukan gula adalah soft drink. Sangat disarankan untuk tidak minum minuman ini lagi. Selalu minta air mineral jika anda sedang makan keluar. Sekali-kali teh manis untuk pelega masih tidak apa.

4. Makan paling akhir 2-3 jam sebelum tidur
Karena lemak mulai ditumpuk saat anda tidur, dan jika anda makan sebelum tidur maka akan menjadi sasaran empuk untuk penumpukan lemak. Jika anda lapar, lebih baik minum saja susu non fat atau WRP atau semacamnya.

5. Tidak lagi gorengan, ganti dengan yang bakar atau rebus
Tetapi hati-hati, biasanya ayam bakar diolesi minyak. Paling baik, anda mengatakan dulu ke yang masak, jangan pakai minyak ya.

6. Latihan kardio (jogging, lari, berenang, lompat tali, treadmill)
Jenis ini akan membuat anda membakar lemak yang menumpuk dengan sukses. Lakukan dengan rutin setiap hari.

7. Pagi hari yang indah untuk berlatih
Berlatih pada pagi hari akan lebih efektif, karena perut anda sudah kosong dan tentunya pembakaran yang utama akan mengambil dari lemak anda.

8. Berjalan kaki yang sehat
Usahakan anda bisa berjalan kaki jika jaraknya tidak terlalu jauh. Ataupun ketika ada pilihan antara eskalator atau tangga, pilih tangga! Kecuali kalau di mall tentunya yang biasanya hanya ada eskalator, tapi bisa anda akali dengan terus berjalan di eskalator.

9. Istirahatlah secukupnya
Waktu istirahat yang baik adalah 8 jam sehari. Jangan lebih jangan kurang.

10. Nikmati hidup anda
Atur semua diet dan latihan anda agar menyenangkan sehingga nanti tidak menjadi diet yoyo (berat kadang turun kadang naik). Kalau anda menikmati gaya hidup sehat anda yang baru, tentu anda tidak sampai bosan khan.

sumber : http://www.akubugar.com/

Minggu, 24 Januari 2010

TETAP SEHAT SAAT JAM KERJA PADAT

image           Jadwal kerja yang padat membuat kita sering kali melewatkan waktu makan dan olahraga secara teratur. Padahal, makan dengan waktu dan kandungan gizi benar dan cukup sangat membantu kesehatan dan tubuh kita makin prima.
Berikut beberapa hal yang jangan terlewatkan;
1. Sarapan. Ini adalah satu kegiatan yang paling penting sebelum memulai aktivitas di pagi hari. Makanan yang kita makan dalam sarapan akan menjadi bahan bakar sehingga tubuh terhindar dari rasa lemas. Bahan bakar ini akan membantu kita untuk tetap tumbuh dan menjadi sumber tenaga sehingga kita bisa lebih berkonsentrasi.
2. Air Putih. Beberapa orang kerap melewatkan kesempatan untuk minum air putih padahal justru sangat berfungsi untuk pencernaan. Para dokter menyarankan, setiap harinya harus mengkonsumsi delapan gelas dalam sehari. Biasakan minum lima gelas air putih sebelum waktunya makan siang dan tiga gelas berikutnya saat menjelang waktunya pulang. Praktek ini mungkin sedikit merepotkan, bagi mereka yang gemar minum kopi, selain mencegah kantuk, juga membuat kita tetap terjaga di kala harus lembur. Yang harus diingat, mengkonsumsi minuman berkafein dalam skala yang berlebihan berpotensi meningkatkan tekanan darah dan membuat jantung berdebar kencang. Bukannya hilang rasa kantuk, tapi hanya membuat kita cepat stres. Jadi, tidak ada salahnya kopi diganti dengan air putih.
3. Sayuran dan buah. Menjelang waktunya makan siang, terkadang kita melupakan yang namanya sayuran dan buah. Padahal menu wajib itu harus kita konsumsi setiap hari. Bagi yang tidak gemar makan sayuran, cobalah menu dalam kemasan yang lain tapi tetap terbuat dari sayuran, sehingga tidak mengurangi selera makan siang. Seperti, pizza sayuran, salad, lasagna bayam, gado-gado. Sedangkan untuk buah, cobalah biasakan membawa bekal buah di dalam tas sebagai cemilan pengganti keripik, cokelat dan lainnya. Jika tidak ingin repot, saat makan siang dapat menambahkan menu jus buah yang kaya akan vitamin.
4. Olahraga ringan. Pekerjaan yang menumpuk membuat kita lupa untuk berdiri dan meregangkan otot sejenak. Bahkan mata dibiarkan seharian berlama-lama di depan layar komputer. Usahakan tiap 20 menit sekali untuk berdiri dan rehat sebentar. Untuk memperbaiki posisi tempat duduk, meregangkan otot-otot yang tegang dan lainnya.

by : Retno Hemawati

Sabtu, 26 Desember 2009

METODE ILMIAH ILMU SOSIAL (Research Methods in Social Science)

          Penggolongan ilmu pengetahuan sejak dahulu sampai sekarang ini pada umumnya telah banyak menyita perhatian dari para ahli dengan beberapa sudut pandangnya masing-masing. Terlebih bilamana tanpa pembagian tersebut, ilmu tidak mungkin dilakukan dengan sistematis dan tidak dapat menunjukkan saling keterhubungan antar cabang-cabang ilmu pengetahuan yang ada. Pada dasarnya, perkembangan ilmu berbanding lurus dengan kebutuhan spesialitas umat manusia. terutama dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini bahkan dewasa ini “diperkirakan terdapat sekitar 650 cabang keilmuan yang sebagian besar belum dikenal masyarakat” (Jujun S. Suriasumantri, 2002:93)

          Sebenarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian berkembang menjadi rumpun ilmu alam dan filsafat moral yang berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, ilmu politik, sejarah, dll. Walaupun perkembangan ilmu sosial agak lambat dibandingkan ilmu-ilmu alam, akan tetapi keduanya tetap berjalan selaras sesuai dengan mekanisme dan metodenya masing-masing. Metode dalam hal ini adalah metode ilmiah, yaitu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah yang mendasari suatu penelitian ilmiah dan diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Penelitian ilmiah yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang sistematik, akumulatif, dan obyektif untuk mengkaji suatu masalah dalam usaha mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsipnya yang mendasar dan berlaku umum (teori) mengenai masalah tersebut.

          Berbeda dengan ilmu alam, ilmu-ilmu sosial budaya cenderung dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengamatan. Akan tetapi terkadang masih melakukan eksperimen, generalisasi, dan verifikasi dengan tujuan untuk memperoleh hasil penelitian tertentu sesuai dengan tujuan penelitiannya.

1) Wawancara

Mengumpulkan informasi dari para anggota masyarakat yang diteliti sekaligus sebagai informan mengenai suatu masalah khusus dengan pedoman tertentu

2) Pengamatan

Berlandaskan pada pemikiran bahwa pengetahuan itu terwujud melalui hal-hal yang dialami pancaindera, yang tidak lain melalui proses pengamatan.

3) Eksperimen

Pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dan biasanya ditandai dengan penggunaan media atau alat bantu yang mendukung penelitian

4) Generalisasi

Proses pengolahan dan analisis berbagai informasi dengan tujuan menambah dan menyempurnakan teori yang telah ada mengenai masalah yang menjadi sasaran kajian.

5) Verifikasi

Pernyataan mengenai suatu hal harus diterima sebagai kebenaran yang harus dapat diverifikasi/ dibuktikan secara empirik. Seperti halnya setiap hukum atau rumus atau teori ilmiah yang harus dibuat berdasarkan atas adanya bukti-bukti empirik.

Dalam ilmu-ilmu sosial, masalah obyektivitas data merupakan suatu hal yang utama. Hal ini dikarenakan, data yang dikumpulkan adalah berasal dari dan mengenai kegiatan-kegiatan manusia sebagai makhluk sosial dan budaya sehingga dapat melibatkan hubungan perasaan dan emosional antara subjek dan obyek dari penelitian tersebut. Oleh karena itu, untuk menjaga obyektivitas analisis nantinya, metode ilmiah ilmu sosial memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :

Ø Mendekati segala sesuatu yang menjadi sasaran kajiannya dengan penuh keraguan dan skeptik

Ø Obyektif dalam menilai segala sesuatu dalam suatu penelitian

Ø Secara etika bersikap netral atau terbebas dari penilaian-penilaian menurut nilai-nilai budaya dan hasil-hasil penemuannya sendiri.

Adapun ketentuan yang dicakup dalam metode ilmiah guna mewujudkan obyektivitas dan tujuan penelitian tersebut, diantaranya :

1) Prosedur penelitian harus terbuka dan dapat diperiksa oleh peneliti lainnya sehingga selalu disebutkan metode apa yang digunakan dan bagaimana menggunakan metode tersebut

2) “Metode ilmiah dipilih dengan mempertimbangkan kesesuaiannya dengan obyek studi dan bukan mencocokkan obyek studi dengan metode” (Sofa, 2008)

3) Definisi-definisi yang dibuat adalah benar dan berdasarkan konsep-konsep dan teori-teori yang sudah ada/ baku, karena itu disebutkan referensi atau kerangka acuannya

4) Pengumpulan data secara obyektif dengan menggunakan metode ilmiah yang baku

5) Hasil penemuannya bisa ditemukan ulang oleh peneliti lainnya, minimal sasaran atau masalah penelitian beserta pendekatan dan prosedurnya yang hampir sama

6) Tujuan kegiatan penelitian bukan sekedar mengumpulkan data tetapi juga pembuatan teori, interpretasi atas teori atau teori-teori yang sudah ada dan untuk membuat prediksi-prediksi berdasarkan gejala-gejala yang diteliti.

          Pendekatan yang dimaksud di atas secara garis besar terbagi menjadi dua golongan, yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif lebih memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang mempunyai karakteristik tertentu dalam kehidupan manusia, yang sering disebut variabel. Hakekat hubungan antar variabel-variabel dianalisis dengan teori yang obyektif. Sedangkan pendekatan kualitatif memusatkan perhatian pada prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala/ pola pada kehidupan manusia. Pendekatan ini menganalisis secara obyektif gejala-gejala sosial dan budaya dengan menggunakan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku. Pada dasarnya, hasil akhir penelitian tetap ditentukan oleh kualitas peneliti karena dalam kedua pendekatan tersebut, kedudukan peneliti sama yaitu sebagai instrumen penelitian yang akan meregulasi metode-metode ilmiahnya sendiri.

Sabtu, 11 Juli 2009

KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI PROPINSI SUMATERA UTARA

Arus globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan-teknologi tak terelakkan lagi. Seiring perkembangan jaman dengan atau tanpa disadari kemajuan tersebut diiringi oleh perkembangan jumlah penduduk setiap tahunnya. Kepadatan penduduk pun terkadang menjadi pemikiran tersendiri terutama oleh pemerintah setempat. Hal ini juga dirasakan H.T. Erry Nuradi selaku bupati kab. Serdang Bedagai, propinsi Sumatera Utara. Oleh karena itu, pengamatan dan analisis data perkembangan kependudukan setempat sangat menjadi sasaran utama dalam program pemerintah saat ini. Rona sosial dalam studi ini berusaha memberikan gambaran tentang pembangunan terutama dalam kependudukan di kabupaten Serdang Bedagai tersebut

Tabel 1 Perkembangan Jumlah Penduduk Kab. Serdang Bedagai Tahun 2000-2006

clip_image002

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Serdang Bedagai 2000-2005 dan tahun 2006

Perkembangan jumlah penduduk di kab.Serdang Bedagai dilihat dari tahun 2000 berjumlah 551.691 jiwa sampai pada tahun 2006 mengalami suatu peningkatan dengan jumlah 591.194 jiwa. Jumlah penduduk Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2001 berjumlah 553.053 jiwa sedangkan pada tahun 2002 menjadi berjumlah 557.052 jiwa. Dimana jumlah penduduk pada tahun 2006 terbesar berada di Kecamatan Perbaungan dengan jumlah penduduk sekitar 117.556 jiwa dan jumlah penduduk terkecil berada di Kecamatan Dolok Merawan berjumlah 16.459 jiwa.

Tabel 2 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2006

No

Tahun

Jumlah Penduduk (Jiwa)

Pertumbuhan Penduduk (%)

1.

2000

551.691

-

2.

2001

553.053

0,24

3.

2002

557.052

0,71

4.

2003

596.040

6,54

5.

2004

588.263

- 1,32

6.

2005

599.151

1,8

7.

2006

591.194

- 1,34

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Serdang Bedagai 2000-2005 dan tahun 2006

Laju pertumbuhan penduduk di kabupaten Serdang Bedagai sebesar 0,59 % per tahun dengan rata-rata 0,05 %. Dengan laju pertumbuhan penduduk terbesar terdapat di kecamatan Kotarih sebesar 0,32 % dan laju pertumbuhan penduduk terkecil terdapat di kecamatan Sei Rampah sebesar -0,02 %. Dari data tersebut bisa disimpulkan distribusi pemerataan penduduk dalam setiap wilayah walaupun masih terlihat kurang tetapi sudah mulai mendekati pemerataan kepadatan penduduk. Adapun kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk setiap 1000 m. Kepadatan penduduk di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2006 sebesar 3730,17 jiwa/ km. Kepadatan terbesar di Kecamatan Perbaungan sebesar 554,93 jiwa/ km dan kepadatan penduduk terkecil di Kecamatan Kotarih sebesar 129,62 jiwa/ km.

by : Budi Eko Siswoyo

Rabu, 08 Juli 2009

ANALISIS JURNAL KONSELING

Sumber : (1) Jurnal Penelitian (2) Jurnal Gizi Klinik Indonesia

Bahasan : (1) Pengembangan Kreatifitas Siswa Melalui Seni Rupa oleh Jasa Sembiring (2) Cyberounceling (3) Model Konseling Untuk Meningkatkan Religiusitas dan Modernitas Remaja Berdasarkan Parenting Style (4) Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling yang Berorientasi Kecakapan Hidup (5) Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Status Gizi Ibu Hamil KEK pada Program JPS-BK di kota Palembang

          Pada halaman sebelumnya (bisa mengunjungi link yang sudah disediakan) telah terlampirkan beberapa jurnal yang berisi kumpulan penelitian baik yang langsung berhubungan dengan konseling secara pikologi maupun yang berkaitan dengan konseling kesehatan. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengupas dan mencoba menganalisis lebih dalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penelitian-penelitian tersebut dari sudut pandang ilmu konseling dengan model-model pendekatannya terutama untuk lebih mengetahui apakah konseling yang diterapkan sudah sesuai dengan tujuan dari konseling itu sendiri atau malah kurang bahkan tidak sesuai dengan definisi konseling sendiri.

          Menanggapi penelitian Cybercounceling oleh Lia dalam kajian mengenai konseling melalui internet dirasa kurang selaras dengan definisi konseling sendiri. Konseling adalah pertemuan secara tatap muka antara konselor dengan klien yang diharapkan nantinya klien dapat menentukan keputusan yang tepat baik bagi diri sendiri maupun keluarganya, kemudian bertindak sesuai dengan keputusannya. Sedangkan penelitian saudari Lia dalam mengimplementasikan konseling melalui cybercounceling kurang sesuai dengan definisi dari konseling seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Cybercounceling ini didasari oleh perkembangan global yang semakin pesat khususnya di bidang teknologi komunikasi yang memberikan pengaruh terhadap pelayanan dan bimbingan konseling. Menurutnya, konseling tidak hanya melalui proses tatap muka tetapi lebih dari itu dengan menggunakan media komunikasi seperti telepon, internet, e-mail, chat rooms, dan video. Hal ini dianggap sebagai suatu inovasi yang dapat mengikuti kecepatan dan keefektifan komunikasi lewat internet dan merupakan layanan yang tanpa harus berhadapan langsung dengan klien. Demikian pula klien, dapat memperoleh informasi dalam ruang lingkup yang luas.

          Memang pada umumnya, inovasi yang ditawarkan penelitian tersebut bisa melingkupi tujuan dari konseling yaitu klien dapat memahami filosofi dan mulai lebih memanfaatkan program, akan tetapi dengan adanya …………….. (selanjutnya, DOWNLOAD)

Jumat, 26 Juni 2009

ANDAI AKU JADI PEMIMPIN part 3/3

g) Mampu menganalisis strategi dalam rencana perkembangan dan berusaha memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang sempat terjadi pada periode sebelumnya dan mempertahankan prestasi yang telah diraih karena walaupun prestasi adalah satu kata yang sulit untuk didapatkan, namun sangat perlu untuk diperjuangkan

h) Melakukan semua yang telah dikatakannya dalam janji terutama untuk misi dan visi organisasi tersebut, bertindak sesuai dengan tata tertib dan ketentuan yang telah dibentuk dan disepakati sebelumnya. Hal ini sebenarnya juga dapat menjadi cara untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan anggota kepada pemimpin, bukan hanya melalui kata-kata tapi juga dibuktikan dengan suatu tindakan (real action)

i) Pandai-pandai menempatkan posisi ketika menjadi seorang pemimpinimage dan ketika menjadi seseorang biasa pada umumnya. Pandai memanfaatkan SDA dan SDM yang tersedia dalam organisasi tersebut sehingga organisasi dapat mengoptimalkan kinerjanya dan tidak terlalu bergantung pada instansi atau organisasi lainnya dengan tanpa memutuskan hubungan dengan instansi atau organisasi yang terkait tersebut

j) Mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan potensi diri dan organisasi terutama dalam kaitannya dengan status dia sebagai pemimpin. Hal tersebut juga bisa ditanamkan kepada anggota-anggotanya

k) Tekun, inovatif, kreatif, pantang menyerah, dan mempunyai solidaritas tinggi setidaknya menjadi pribadi dari seorang pemimpin

          Bukan hanya pemimpin, kita sendiri saja kadang masih sulit mendefinisikan kata pemimpin. Bukan definisi kata yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin, namun keteladanan, kearifan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Menjadi pemimpin dimulai dari hal yang terkecil dan dimulai dari memimpin diri sendiri. Jika diri sendiri dapat kita kendalikan sebagaimana mestinya, tentunya orang lain atau anggota juga dapat kita kendalikan pula. Pengendalian disini pun bukan malah dijadikan sebagai alat kekuasaan dan pendukung otoriterisme tapi seharusya lebih dijadikan sebagai wahana yang dimiliki pemimpin untuk menyatukan persepsi dan berjuang bersama mewujudkan tujuan organisasi/ suatu negara. Jika ada kegagalan dalam periode seorang pemimpin, sebenarnya juga dikarenanakan pemimpin tersebut gagal memimpin dirinya sendiri.

(sekian and thanks) ^_^

Rabu, 24 Juni 2009

ANDAI AKU JADI PEMIMPIN part 2/3

image           Seperti yang dibahas sebelumnya bahwa andai-andai adalah stimulus pertama dan dalam esay ini, penulis mengajak pembaca untuk berandai-andai sejenak, “andai aku jadi pemimpin”. Sampai saat ini, perkembangan dan kemajuan jaman, bukan malah membantu meringankan beban bangsa Indonesia malah seakan semakin mencekik leher masyarakat terutama masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan yang sebenarnya telah dijanjikan kesejahteraan oleh negara terlebih oleh pemimpin, tapi apa buktinya? Keadilan dan kemakmuran masih tidak merata dan sebagian titik kemiskinan masih belum terjamah oleh uluran tangan pemimpin di balik pemerintahan. Penulis mencoba merefleksikannya dalam organisasi kecil terlebih dahulu, andai aku jadi pemimpin maka yang akan penulis lakukan adalah :

a) Memperkuat hubungan internal dan hal-hal yanimageg kecil terlebih dahulu  karena tidak dapat dipungkiri bahwa persatuan inilah modal awal keberhasilan dalam pencapaian tujuan. Walaupun demikian, senantiasa menjaga dan menjalin hubungan dengan relasi/ pihak luar organisasi

b) Adanya transparansi seorang pemimpin terhadap anggotanya baik anggaran maupun permsalahan organisasi yang patut diselesaikan bersama-sama, salah satunya dengan memaksimalkan sosialisasi program kerja dan lainnya

c) Menyelesaikan suatu persoalan sesegera mungkin dengan tidak gegabah dan melibatkan anggota dalam pencarian keputusan yang terbaik

d) Siap menerima masukan baik kritik maupun saran yang diharapkan nantinya akan membangun pribadi seorang pemimpin menjadi lebih baik

e) Bertanggung jawab dan berperan sesuai dengan status “pemimpin” yang telah diemban dengan sebaik-baiknya dan seoptimal mungkin

f) Beriman dan bertakwa sesuai dengan keyakinannya serta berpengetahuan dan dapat menjadi tauladan bagi anggota untuk melakukan hal serupa terutama dalam menyamakan persepsi dan tujuan bersama

……………………………………………………………………………………………………………………….

Sabtu, 20 Juni 2009

ANDAI AKU JADI PEMIMPIN part 1/3

          image Sebagaimana hak, dalam hal ini hak bangsa Indonesia yaitu untuk memilih dan dipilih, rakyat Indonesia pun mengenal calon pemimpinnya jika mereka sebagai pemilih dan apa keunggulan serta potensi dirinya jika dia sebagai calon pemimpin yang akan dipilih. Pemilihan umum legislatif pun baru saja dilakukan. Walaupun diwarnai dengan pelanggaran-pelanggaran baik saat kampanye maupun kegiatan sosialisasi, akan tetapi kegiatan pemilihan cukup dapat dikendalikan. Pemilihan legislatif saja sudah seperti itu apalagi pemilihan umum untuk presiden mendatang. Minimal pemilihan legislatif telah menjadi cerminan untuk prediksi kerusuhan dan berkecamuknya persaingan-persaingan yang akan terjadi dan patut menjadi pertimbangan yang harus dievaluasi. Suatu awal sebenarnya merupakan proses ketika seseorang membangun pondasi untuk rumahnya. Ketika pondasi awal tidak dibangun dengan baik bahkan sama sekali tidak dihiraukan, apa jadinya rumah yang nantinya akan berdiri. Bayangan kebobrokan dan keruntuhan pun sangat jelas terlihat dan apakah kita hanya berdiam diri saja? Walaupun rumah itu bukan rumah kita, tetapi jika seandainya rumah tersebut roboh dan menimpa rumah di sekitarnya, berderet-deret rumah pun akan rusak bahkan roboh seiring dengan robohnya rumah tanpa pondasi kokoh tersebut. Parahnya lagi, pemilihan calon pemimpin bukan untuk rumahnya sendiri melainkan rumah kita juga, negara yang merupakan rumah dan tanah air tercinta bangsa Indonesia. Setidaknya hal ini bisa menjadi pertimbangan kita, bahwa apa yang kita tentukan dan kita pilih sangat berarti dan berpengaruh terhadap perkembangan dan kesejahteraan bangsa negara Indonesia ke depannya.

          Pembangunan pondasi yang tidak kokoh itu sebenarnya diawali dengan kurang pahamnya seseorang sebagai calon pemimpin akan tugas dan peranannya kelak jika dia telah terpilih menjadi seorang pemimpin. Pada dasarnya pemimpin adalah seseorang yang bisa menjadi panutan dan dapat memberikan persuasif kepada orang lain sebagai anggota dan masyarakatnya, dalam hal ini bisa dicontohkan seorang presiden dengan bangsa dan negaranya. Jika pemimpin kurang paham bahkan tidak mengerti statusnya sebagai seorang khalifah/ pemimpin, maka ketika dia berperan pun akan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan anggota atau masyarakatnya terhadapimage kepemimpinannya. Setelah membaca sekelumit kalimat yang telah diuraikan penulis sampai baris ini, pasti setidak-tidaknya akan timbul suatu pertanyaan dan pemikiran, “apa aku dapat menjadi pemimpin?” dan “andai aku jadi pemimpin….”. Apapun itu, jika hal tersebut hanyalah angan-angan, semuanya akan menjadi sia-sia karena perubahan sebenarnya terletak di tindakan kita, bukan hanya dalam bayangan kita semata. Andai-andai adalah stimulus pertama dan saraf motorik siap melakukan apa yang akan kita lakukan dan sekarang saatnya Anda yang menentukan, melakukan sesuatu atau hanya diam berandai-andai

………………………………………………………………………………………………………………………

Jumat, 19 Juni 2009

WHAT ??? Thanks for Smoking ??

          Nick Naylor adalah wakil direktur Akademi Kajian Tembakau, yaitu instansi/ organisasi pelobi utama industri tembakau di Washington DC. Pada suatu acara entertain ”JOAN”, dia berkesempatan menjadi juru pembicara utama yang mewakili rokok. Dia bekerja sebagai juru bicara dan dari situlah nafkah yang selama ini dia terima. Pada dasarnya, perilaku yang sudah dilakukan Nick Naylor dalam film yang berjudul ”Thank You for Smoking” tersebut bukan hanya menjadi penghambat tetapi juga menjadi dinding penghalang dalam perealisasian kesehatan masyarakat umumnya. Bagaimana tidak, perilaku dia sebagai perwakilan rokok yang fanatik dan membela kebiasaan merokok dengan berbagai alasan yang terkadang terkesan dipaksakan. Padahal saksi-saksi yang merasa dirugikan akan kebiasaaan merokok sudah menjadi salah satu bukti kuat akan bahayanya perokok baik aktif maupun pasif sekalipun. Tindakan Nick Naylor dirasa semakin tidak benar ketika dia telah mulai menanamkan pandangan bahwa merokok itu tidak salah kepada anak usia dini. Dia mencoba memberikan persepsi sejak dini dalam merespon kebiasaan merokok dengan tidak selalu menekankan pada negative thinking.

          Pada kutipan film tersebut, salah satu tujuan yang juga tidak bisa dibenarkan adalah dalih bahwa kebiasaan merokok secara tidak langsung dapat membantu program pengendalian kepadatan penduduk mengingat populasi penduduk yang dari tahun ke tahun semakin meningkat tajam. Hal ini dimaksudkan bahwa orang-orang perokok yang kronis akan meninggal dan nantinya secara otomatis akan dapat meningkatkan tingkat mortalitas penduduk pada tahun tersebut.

          Film ini menyajikan cerita yang cukup menarik walaupun mungkin di film ini memang tidak memprioritaskan penyampaian pendidikan. Dari film asing tersebut dapat diambil hikmah bahwa seseorang tidak boleh memaksakan kehendak akan sesuatu yang hanya dianggap benar oleh dirinya sendiri karena belum tentu orang lain juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya terlebih jika sudah terlalu fanatik akan keyakinan tersebut. Kebiasaan merokok pada umumnya tidak baik untuk kesehatan tapi alangkah bijaknya jika sebagai sesama manusia kita tidak begitu saja mengklaim konsumen rokok dengan anggapan negatif dan menjurus ke asumsi-asumsi yang tidak baik. Sebaiknya lebih mengutamakan obyektivitas daripada subyektivitas seseorang. Hasil yang baik berasal dari rencana awal yang baik pula sehingga perubahan yang terlalu cepat terkadang malah sering tidak sesuai bahkan jauh dengan apa yang sudah diharapkan. Seperti halnya dengan upaya perubahan pola hidup bersih dan sehat dengan menjauhi perilaku merokok karena dengan langkah awal tersebut yang dimulai dari diri sendiri, setidaknya dapat menjadikan diri lebih baik daripada sebelumya dan membantu mencegah orang lain terutama orang-orang yang disayangi dari dampak bahaya dari rokok. Yang lebih penting bukan negosiasi melainkan lebih kepada argumen yang akan dilontarkan.Pernyataan inilah yang tersirat dari tujuan Nick Naylor.

Selasa, 16 Juni 2009

SERANGAN BARU BAGI MANUSIA

          Beberapa bulan ini masyarakat dunia dikagetkan dengan menyebarnya virus flu babi yang doyan makan banyak korban. Apakah serangan tersebut berhenti sampai di situ? Ternyata tidak. Muncul lagi virus influenza yang menyebabkan flu kuda atau yang biasa disebut equine influenza.

          Flu kuda ini sebenarnya pernah menjangkit di Australia sekitar pertengahan tahun 2007 lalu dan pada tahun yang sama Indonesia juga gencar melakukan pencegahan. Seperti yang dilakukan di Stasiun Karantina Hewan Kelas I Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang, yaitu dengan mengawasi secara ketat lalu lintas masuknya hewan dan produk olahan hewan dari luar negeri, terutama asal Australia dan Jepang. Langkah tersebut untuk mengantisipasi penyebaran wabah equine influenza. Kini flu kuda menjadi perhatian kembali setelah 43 ekor kuda di negara bagian barat India Rajasthan dan Gujarat tewas beberapa waktu yang lalu dan tidak menutup kemungkinan akan menjangkiti negara-negara lain.

          Dua jenis virus yang memiliki peran utama dalam penyebaran virus flu kuda adalah equine-1 (H7N7) yang menyerang otot hati dan equine-2 (H3N8) yang lebih ganas menyerang sistem tubuh. Penyakit ini bisa menginfeksi hampir 100 persen populasi kuda yang belum divaksinasi dan belum pernah terkena virus ini sebelumnya dan masa inkubasi relatif singkat, yakni satu sampai lima hari.

          Equine influenza akan menyebabkan batuk, demam, kejang-kejang, serta keluar lendir dari hidung kuda, pada tahapan yang lebih parah akan menyebabkan kematian. Virus ini bisa menular pada manusia, apalagi seseorang yang mempunyai kuda harus sering memegang mereka terutama di bagian wajah, namun resikonya lebih kecil dibandingkan flu avian. Dengan adanya fakta tersebut kita tidak boleh lengah karena tidak menutup kemungkinan virus tersebut akan berkembang dan membahayakan nyawa manusia seperti flu yang menjangkiti hewan-hewan sebelumya

(sumber : VIOLET edisi I/ Mei 2009)